“Jejer” Suluh Sumurup Arts Festival (SSAF) 2025: Perayaan Kesetaraan Seni Rupa Difabel

Author Image
Author Social Media :
foto ruang pamer suluh sumurup 2025 di TBY

Suluh Sumurup Arts Festival (SSAF) 2025 kembali hadir sebagai manifestasi nyata dari upaya mencapai kesetaraan berekspresi dan kemandirian bagi difabel pelaku seni di ruang publik. Pameran seni rupa berskala nasional ini diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY), didukung oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Kebudayaan, dan berlangsung di TBY di Yogyakarta, yang dibuka secara resmi pada Kamis sore, 15 Mei 2025. Mengusung tema "Jejer", sebuah kosakata Jawa yang bermakna 'subjek' atau 'pelaku utama', festival ini bertujuan untuk mengajak masyarakat menata ulang pandangan tentang difabel dengan menempatkan mereka pada posisi yang sejajar, bermartabat, dan bahagia. SSAF tidak hanya sekadar agenda seni, tetapi menjadi sebuah "ruang kasih" dan platform bagi seniman untuk berdiri tegak, mandiri, dan menatap dunia dengan keberanian, sesuai dengan makna filosofis "Jejer" yang ditekankan oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, saat membacakan sambutan pembukaan mewakili Gubernur DIY. Apresiasi juga disampaikan oleh Direktur Pengembangan Budaya Digital Kementerian Kebudayaan, Andi Syamsu Rijal, yang memandang SSAF sebagai ruang yang harus dioptimalkan untuk pengembangan karya, menekankan bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk menghasilkan karya yang menggugah, sejalan dengan amanat UUD 1945 Pasal 32 tentang kewajiban negara dalam perlindungan dan pengembangan kebudayaan.

Sebagai kegiatan yang dikuratori oleh tiga kurator, yaitu Nano Warsono, Budi Irawanto, dan Sukri Budi Dharma, SSAF 2025 berhasil menghadirkan total 193 karya seni rupa dari 131 seniman difabel yang tersebar di 15 provinsi di seluruh Indonesia, menampilkan keberagaman narasi personal melalui medium lukisan, instalasi, hingga karya multimedia. Pameran ini merupakan yang ketiga kalinya diselenggarakan dan menjadi langkah strategis untuk membangun ekosistem seni inklusif serta memperkuat peran difabel dalam dinamika seni rupa nasional, seperti ditegaskan oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi. Selain menampilkan karya dari perupa senior seperti Wiji Astuti dan Rofitasari Rahayu, keunikan SSAF 2025 adalah desainnya yang sepenuhnya inklusif, menyediakan juru bahasa isyarat bagi pengunjung tuli dan juru bisik bagi pengunjung difabel netra, memastikan akses setara bagi semua lapisan masyarakat untuk menikmati karya seni. Program SSAF 2025 diperluas dengan rangkaian kegiatan pendukung, termasuk pertunjukan musik, pemutaran film, galeri tour, artist talk, dan berbagai workshop kreatif seperti membatik dan pengenalan bahasa isyarat. Seluruh program tambahan ini dikelola secara kolaboratif oleh pelaku seni difabel sebagai panitia, fasilitator, hingga pengisi acara, semakin mempertegas tema "Jejer" dalam praktik nyata dan menjadikan SSAF 2025 sebagai panggung penting bagi perupa difabel untuk tampil setara dalam lanskap seni rupa nasional.

Kamu bisa mengikuti kita di sosial media :
Logo
Loading.Website JDA Yogyakarta