Kelompok musik inklusi Gandana, yang berdomisili di Trirenggo, Bantul, Yogyakarta, kembali menunjukkan eksistensinya dengan menyiapkan penampilan di ajang Pameran Seni Rupa Tabon dan Pasar Jembar yang akan digelar di Jogja Nasional Museum (JNM) Yogyakarta antara 22 April hingga 5 Mei 2024. Keunikan utama Gandana terletak pada instrumen mereka, di mana alih-alih menggunakan alat musik konvensional, mereka memanfaatkan dan memodifikasi alat-alat bantu disabilitas—seperti tongkat canadian, kursi roda, dan tongkat tunanetra—menjadi alat musik yang dapat dimainkan dengan cara dipetik, dipukul, ditiup, atau digesek, menghasilkan karakter bunyi yang tidak biasa. Frans Arya, salah satu personel dan instruktur, menjelaskan bahwa nama Gandana berasal dari kata ganda dan guna, yang mengandung makna bahwa alat bantu disabilitas memiliki fungsi ganda sebagai alat musik. Ide kreatif ini berawal dari obrolan bersama di organisasi Jogja Disability Arts (JDA) yang dipimpin oleh Sukri Budi Dharma (Butong), dengan modifikasi alat dilakukan oleh dosen ISI, Nanang Garuda. Kelompok yang sebagian musisinya adalah penyandang disabilitas (tunanetra dan tunadaksa) ini secara rutin berlatih setiap Rabu sore hingga malam hari di Museum Rumah Garuda, Bantul, melalui proses eksplorasi bunyi dan eksperimen respon musikal untuk membentuk kesatuan sinergi yang utuh, yang merupakan langkah JDA untuk memajukan seni dan disabilitas di tingkat nasional dan internasional.

