Membongkar Sekat Eksklusivitas Ruang Publik Seni (bagian 2)

Author Image
Author Social Media :
Foto pengguna kursi roda dan pengguna tongkat sedang melihat karya lukis yang tergantung didinding

JDA.com. Dari release yang dikeluarkan JDA dituliskan bahwa, kegiatan kunjungan orang dengan disabilitas ke ruang publik seni, adalah satu langkah positif memperkenalkan disabilitas dengan ruang seni yang lebih luas. Bisa dikatakan bagian edukasi bagi difabel. Demikian juga edukasii bagi para seniman yang terlibat dalam pameran.

 

“Edukasi memang harus dibangun bagi banyak pihak. Jika tidak maka komunikasi dan interaksi social akan hilang, yang ada hanya akan menyisakan ekslusivitas. Hal ini coba dibongkar oleh Galeri Katamsi dan JDA,” terang Butong, pria bertongkat itu.

 

Lebih lanjut menurut Butong, bahwa kesadaran pentingnya aksesbilitas harus ditumbuhkan bersama. Namun aksesibilitas tidak hanya dimaknai lebih dari sekadar akses fisik, akan tetapi juga akses intelektual dan sosial bagi semua orang.

 

Bagi Butong, dampak aksesibilitas di ruang seni akan dapat mengembangkan potensi dan meningkatnya kemampuan individu.

 

 

Pemandu pameran

 

Sebuah catatan diberikan Ketua KDY, Nur  Aini. Kali itu perempuan berhijab itu mendampingi dua orang anggota komunitasnya. Rasikun dengan disabilitas netra dan Heri dengan disabilitas tuli. Mendampingi sekaligus menjadi pemandu pameran, dilakukan oleh Nur. Dia menjelaskan satu demi satu karya yang dipamerkan. Dia juga membacakan deskripsi karya yang didisplay pada tiap-tiap karya.

 

“Jika tidak dipandu, Rasikun dan Heri, tidak akan tahu dengan apa yang ada di hadapannya, apa yang sedang disaksikannya. Apalagi Rasikun yang buta total, yang mengandalkan perabaan untuk mengidentifikasi sesuatu. Sementara, karya yang dipamerkan tidak boleh diraba. Karenanya galeri mesti menyediakan pemandu pameran,” demikian masukan Nur Aini.

 

Keberadaan pemandu pameran pada galeri seni, akan melengkapi rangkaian cara membongkar ekslusivitas ruang publik seni, dalam hal ini galeri. Tak hanya untuk difabel saja, kehadiran pemandu akan menjadi solusi bagi pengunjung yang  hendak mendapatkan penjelasan terkait karya yang dipamerkan.

 

Tidak semua pengunjung paham bagaimana menikmati pameran. Terkadang, ada pengunjung yang bingung dan enggan membaca satu per satu deskripsi karya. Sehingga ikut berkeliling dengan pemandu, bisa menjadi pilihan praktis menikmati karya seni. Karena pemandu akan menjelaskan dengan singkat, dengan istilah tepat. Dengan demikian pengunjung lebih mudah memahami karya yang dipamerkan. [harta nining wijaya/foto:sbd]

Kamu bisa mengikuti kita di sosial media :
Logo
Loading.Website JDA Yogyakarta