Next Level 2026 di PSBK Yogyakarta: Diplomasi melalui Seni Hip Hop dan Perspektif Disabilitas

Author Image
Author Social Media :

Ketika hip hop lahir di jalanan New York City pada 1970-an, ia menjadi bahasa perlawanan, solidaritas, dan ekspresi identitas bagi komunitas yang termarginalkan. Puluhan tahun kemudian, semangat itu menjelma menjadi jembatan diplomasi lintas negara melalui program Next Level, sebuah inisiatif yang didukung oleh U.S. Department of State sejak 2014 dan telah menjangkau lebih dari 55 negara. Tahun ini, Yogyakarta menjadi salah satu ruang temu tersebut. Di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), para seniman hip hop dari Amerika Serikat dan Yogyakarta berkumpul, belajar, berkolaborasi, dan berbagi perspektif dalam kelas DJ, MC, dance, dan aerosol art.

 

Program Next Level di Yogyakarta berlangsung dari Sabtu, 31 Januari hingga Minggu, 8 Februari 2026. Program ini dirancang dalam format masterclass, diskusi, serta praktik kolaboratif. Selain pengembangan teknik artistik, setiap kelas juga memuat materi mengenai conflict transformation dan kewirausahaan, memperluas cakrawala peserta tentang bagaimana seni dapat berperan dalam perubahan sosial sekaligus keberlanjutan praktik kreatif mereka.

 

Workshop ini kemudian ditutup dengan sesi public sharing dan performance di PSBK, di mana masing-masing kelas mempresentasikan proses dan hasil kolaborasi mereka kepada publik. Momen ini menjadi ruang refleksi sekaligus perayaan atas intensitas pertukaran yang telah terjadi selama sepekan. Program berlanjut pada hari terakhir dengan pertunjukan seniman peserta Next Level di Solo, menghadirkan para artist-educator Amerika Serikat bersama kolaborator lokal, serta penampilan khusus dari Jogja Hip Hop Foundation sebagai guest star.

 

Lima artist-educator dari Amerika Serikat yang terlibat dalam program ini adalah Daniel Holloway (Chrybaby Cozie, dancer dari Harlem, NYC), Miles Matthew Wainwright Iton (Irie Givens, MC/rapper dari Los Angeles), Alice Mizrachi (seniman aerosol art dari NYC), Tyler Smith (DJ dari Los Angeles dan NYC), dan videografer asal Virginia, Brent Hearn.

 

Dalam implementasinya di Yogyakarta, kelas-kelas tersebut difasilitasi bersama subject matter expert dari Yogyakarta: Balance untuk MC & DJ, Andi untuk graffiti art, serta Oktavian untuk dance/B.Boy. Kolaborasi antara artist-educator internasional dan fasilitator lokal ini memastikan bahwa materi yang disampaikan tidak hanya relevan secara global, tetapi juga kontekstual dengan dinamika skena hip hop Yogyakarta dan Indonesia, sebagaimana disampaikan oleh Mas Doni Maulistya, co-executive Director PSBK.

 

Program ini diikuti oleh sekitar 25 partisipan dari berbagai latar belakang. Di antaranya adalah Sukri Budi Dharma “Butong”, seniman disabilitas dari Jogja Disability Arts (JDA) sekaligus pendiri JDA. Bagi Mas Butong, keterlibatannya dalam kelas aerosol art menjadi pengalaman yang membuka wilayah eksplorasi baru. Meski selama ini ia banyak berkarya dalam format mural skala besar, teknik semprot di atas dinding dengan karakter khas graffiti menjadi pengalaman pertamanya yang benar-benar intens. Ia mengamati bagaimana para seniman graffiti memiliki penguasaan teknis yang sangat terlatih. Misalnya saja, mengontrol tekanan spray, membaca ruang, mengolah warna, serta menjaga kepekaan visual dalam waktu kerja yang relatif cepat.

 

Namun pembelajaran itu tidak berhenti pada teknik. Mas Butong melihat adanya disiplin dan solidaritas kuat dalam kultur graffiti. Bekerja cepat bukan berarti bekerja serampangan. Justru ada ketelitian dan rasa tanggung jawab kolektif yang dijaga bersama. Ia juga merasakan keterbukaan dari para seniman terhadap partisipan disabilitas.Praktik kolaborasi semacam ini memperkaya perspektif Butong tentang akses dan inklusivitas dalam ekosistem hip hop.

 

“Akses fisik itu penting,” ujarnya, “tapi yang jauh lebih penting adalah akses dari orang-orang sekitarnya.”

 

Bagi Mas Butong, makna inklusivitas terletak pada ekosistem yang suportif, pada kesediaan komunitas untuk membuka ruang belajar bersama. Ia bahkan melihat potensi besar aerosol art untuk dieksplorasi lebih jauh oleh seniman disabilitas di Yogyakarta, mengingat medium ini masih jarang digarap dalam ekosistem seni disabilitas.

 

Selain membuat mural kolaboratif pada dinding sebuah bangunan berbentuk gardu, para peserta juga memproduksi karya aerosol di atas kanvas yang kemudian dipamerkan pada 6 Februari - 6 Maret 2026 di Gedung Darmawulan, PSBK.

 

Sebagai mitra lokal, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga menerjemahkan ide program agar relevan dengan konteks Yogyakarta. PSBK menggandeng komunitas seperti Hiphop Soringin untuk memperluas diskursus hip hop lokal, serta melibatkan penerjemah yang memiliki latar belakang praktik seni hip hop. Strategi ini penting agar transfer pengetahuan tidak sekadar literal, tetapi kontekstual, sehingga proses alih bahasa tidak kehilangan makna kultural.

 

Kurikulum pun disusun secara terbuka, berdasarkan kebutuhan dan umpan balik peserta. Dalam kelas-kelas ini, diskusi berkembang melampaui teknik. Bersama Alice Mizrachi, misalnya, muncul percakapan tentang bagaimana street art di Amerika Serikat telah membentuk suprastruktur dan infrastrukturnya sendiri. Mulai dari kerja sama dengan museum hingga kolaborasi dengan brand, tanpa sepenuhnya melepaskan akar komunitasnya. Diskusi ini memantik refleksi tentang posisi street art di Indonesia: bagaimana ia bisa diapresiasi secara profesional sekaligus tetap berpihak pada solidaritas komunitas.

 

Topik profesionalisme dan kewirausahaan menjadi bagian penting lainnya. Para peserta diajak membayangkan bagaimana praktik seni jalanan dapat berkelanjutan secara ekonomi, tanpa kehilangan integritas artistik. Sementara itu, sesi conflict transformation memperluas pemahaman bahwa hip hop bukan hanya ekspresi estetika, tetapi juga medium dialog dan negosiasi sosial.

 

Bagi Mas Aul, pertemuan fisik melalui format master class semacam ini memiliki nilai yang tak tergantikan. Interaksi langsung, kunjungan ke lokasi, dan kerja kolaboratif yang intens selama beberapa hari menciptakan ruang reflektif yang jarang terjadi dalam pertemuan daring atau acara satu kali. “Di sini bukan hanya praktik berkarya,” kurang lebih demikian ia menggambarkan, “tetapi ada diskusi, ada edukasi, bahkan saling membantu mengartikulasikan praktik kesenimanan masing-masing.” Waktu yang cukup panjang memungkinkan pertukaran pengetahuan yang lebih dalam dan bermakna.

 

Dengan komposisi partisipan yang beragam serta pendekatan pembelajaran yang kolaboratif, Next Level di Yogyakarta hadir sebagai bentuk diplomasi budaya yang bekerja pada level pengalaman sehari hari. Hip hop menjadi kendaraan untuk saling mengenal, bekerja sama, memahami konteks perkembangan di masing-masing negara, serta menjadi awal kemungkinan-kemungkinan kolaborasi baru di masa depan.

 

Pertukaran yang terjadi tidak sebatas pada keterampilan teknis, tetapi juga pada nilai solidaritas, profesionalisme, dan keberlanjutan praktik seni. Kehadiran seniman disabilitas seperti Butong memperluas makna diplomasi tersebut. Pertukaran bukan hanya antarnegara, tetapi juga antar pengalaman tubuh dan cara menegosiasikan ruang. Dengan demikian, hip hop sebagai bahasa universal menemukan relevansinya ketika ia mampu membuka ruang yang setara bagi semua. (Penulis : Vina Puspita)

Kamu bisa mengikuti kita di sosial media :
Share:
Logo
Loading.Website JDA Yogyakarta