|
Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan dua organisasi seni disabilitas terkemuka, yaitu Jogja Disability Arts (JDA) Indonesia dan DaDa Fest (UK), menggelar sebuah seminar penting di Ruang Seminar A Gedung Unit 1 Sekolah Pascasarjana UGM. Seminar yang ditujukan bagi mahasiswa Prodi PSPSR ini mengusung tajuk “Menciptakan Makna dan Pemberdayaan Kemungkinan dalam Praktik Seni Disabilitas: Refleksi Dari DaDa Fest (Inggris) dan Jogja Disability Arts (Indonesia)”, dengan tujuan utama untuk mengisi kekosongan wacana di Indonesia di mana, menurut Ketua Prodi PSPSR Dr. Budi Irawanto, hubungan antara seni dan disabilitas masih terabaikan dalam publik maupun dunia seni. Keterlibatan JDA dan DaDa Fest, yang memiliki moto “Creating art, challenging attitudes, challenging lives,” dalam kolaborasi ini muncul sebagai cara untuk mengumpulkan sumber daya dan mengeksplorasi kemungkinan artistik baru dalam semangat komunalitas. Poin utama yang dibahas dalam forum ini berfokus pada pentingnya menciptakan ruang partisipasi bagi seniman disabilitas untuk menjalankan agensi mereka, membentuk citra, keterwakilan, dan identitasnya, dengan harapan dapat mengubah budaya abilityism menjadi praktik yang lebih inklusif. Seminar ini menampilkan pembicara internasional, Ngozi Ugochukwo dan Rachel Rogers dari DaDa Fest International, yang memberikan citra praktik seni disabilitas yang sangat mendukung dari Inggris, mencakup dukungan profesional mulai dari komisi, penyediaan fasilitas untuk pertunjukkan dan pameran, hingga dukungan pelatihan. Dari sisi nasional, peneliti dan seniman visual dari JDA ID, Triarani Utami dan Nano Warsono, mempresentasikan hasil penelitian mereka yang berjudul “Memahami Spektrum Makna dalam Kolaborasi Seni Disabilitas”. Penelitian tersebut—yang juga melibatkan Ketua JDA, Sukri Budi Dharma (Mas Butong)—menegaskan bahwa kolaborasi seni disabilitas mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan memicu eksplorasi lebih lanjut pada seniman disabilitas, yang secara kolektif dipandang sebagai keahlian dalam menciptakan sesuatu yang penting atau bermakna. Kesuksesan seminar ini diharapkan dapat memperluas pemahaman mahasiswa Prodi PSPSR dalam memaknai seni disabilitas sebagai praktik yang kaya akan potensi kelonggaran dan kreativitas, serta menjadi sarana efektif dalam membangkitkan empati dan penerimaan di kalangan penikmat seni. |

