BEM Fisipol UMY Gagas

Author Image
Author Social Media :
foto ruangan diskusi Bersama BEM FISIPOL UMY

Berangkat dari keresahan dan kesadaran atas minimnya perguruan tinggi yang terbuka bagi difabel, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memprakarsai gerakan advokasi yang dikemas dalam program unggulan "Kawan Bermakna". Gerakan ini lahir setelah Biro Riset & Pengembangan BEM Fisipol melakukan kunjungan ke BPS DIY pada Senin, 19 Mei 2025, dan menemukan data ironis: UMY berada di wilayah dengan demografi difabel tertinggi di Sleman (Kecamatan Gamping dan Godean), namun kampus tersebut belum sepenuhnya ramah difabel, dengan infrastruktur yang tidak standar dan hanya satu mahasiswa difabel netra yang terdata. Untuk menyuarakan seruan kesetaraan dan menumbuhkan empati, BEM Fisipol menggelar diskusi (talkshow) bertajuk "Kawan Bermakna: Isyarat: Kita Bahasa Mereka" pada Rabu, 28 Mei 2025, bertempat di Gedung Amphiteater E6 Ruang Ibrahim Lantai 5 UMY. Kegiatan ini bertujuan utama untuk membangun kesadaran (awareness) dan mendorong UMY menjadi kampus ramah difabel, memastikan adanya pendidikan yang layak serta lingkungan aman dan nyaman bagi semua.

Talkshow ini dimoderatori oleh Bagas Valentino Elsand dan menghadirkan narasumber utama Sukri Budi Dharma (Butong), Ketua Jogja Disability Arts (JDA), dan Yogi Suganda Siregar, seorang pemuda tuli yang merupakan Guru SLB, yang turut didampingi Juru Bahasa Isyarat (JBI). Butong menjelaskan ragam disabilitas sesuai UU No. 8 Tahun 2016, menyoroti adanya kebuntuan komunikasi antara difabel dan masyarakat awam yang perlu diatasi melalui perubahan cara pandang dan sikap, menekankan bahwa inklusi bukan hanya soal infrastruktur tetapi juga soal menerima dan memberi kesempatan. Gubernur BEM, Raden Arya Wibisana, menyatakan bahwa Kawan Bermakna merupakan autokritik bagi kampus, yang harus memastikan pendidikan dan aksesibilitas layak bagi difabel, yang merupakan hak semua golongan. Sejalan dengan hal itu, Wakil Dekanat Fisipol, Taufiqur Rahman, juga melihat peluang untuk mendorong inklusivitas di UMY dengan pimpinan yang baru dilantik. Puncak kegiatan ini adalah sesi belajar Bahasa Isyarat Bisindo bersama Yogi Suganda, di mana antusiasme peserta terlihat jelas. BEM Fisipol berencana menjadikan diskusi Kawan Bermakna sebagai program rutin bulanan dan bertekad mendeklarasikan gerakan advokasi ini menjadi program permanen BEM pada akhir periode, dengan tagline "Setiap dari kita adalah kawan. Setiap kawan pasti bermakna".

Kamu bisa mengikuti kita di sosial media :
Logo
Loading.Website JDA Yogyakarta