JDA.com. Mural atau lukisan permanen pada bidang datar (dinding), bisa kita jumpai di berbagai tempat di Yogyakarta. Di bekas gedung bioskop Permata, di pojok timur Jalan Pasar Kembang, di tembok dan tiang jembatan layang Lempuyangan, adalah beberapa contoh mural yang bisa kita lihat.
Teknik menggambar atau melukis dengan media dinding atau tembok ini bukan tanpa alasan. Menghilangkan kesan kumuh, salah satunya. Sehingga mural dapat menyegarkan suasana kota. Dengan mural, karya seni atau lukisan para perupa dapat dinikmati khalayak luas (publik).
Lebih dari itu, ternyata mural juga dapat menjadi jembatan penghubung antar negara. Yayasan Jogja Disability Arts (JDA), dengan misi mewujudkan partisipasi penuh dan kesamaan kesempatan disabilitas di bidang seni budaya, melakukannya. Melalui projek mural disabilitas JDA, project ini menghubungkan para seniman difabel Indonesia dan Cardif, Wales, Inggris.
Mengambil tema “Netas/Inkubasi” 2021 Yogyakarta, kegiatan ini melibatkan delapan seniman difabel dari berbagai kota di Indonesia. Mereka ialah, Lala (asperger) – Bandung, Kusdono (fisik) – Cirebon, Winda (fisik) – Bali, Nunggal (tuli) – Jogja, Anugerah Fadli (autisme) – Jogja, Anfield (autis-tuli) – Jakarta, Yuni (fisik) – Bengkulu dan Agus Yusuf (fisik) – Madiun.
Merespon situsasi pandemi, mendasari penentuan tema. “Semasa pandemi, orang banyak berada dalam rumah. Ada kegelisahan yang diakibatkan pemberlakuan pembatasan keluar rumah ini. Karena pada dasarnya manusia ini makhluk sosial, sehingga tidak bisa hidup tanpa berinteraksi,” ungkap Ketua Yayasan JDA, Sukri Budi Dharma.
Namun, dalam keterkungkungan karena pandemi, lanjut Budi, para seniman difabel tetap punya semangat, terus berproses. “Sehingga pada saatnya nanti, ibarat keluar dari cangkang (menetas), sudah siap menghadapi dunia, Siap memulai hidup dan harapan baru, memiliki strategi bertahan dan beradaptasi dalam era normal baru,” imbuhnya.
Proses dan tahapan
Projek mural, sudah dimulai pada Januari dan akan berakhir pada Mei 2021. Melukiskan harapan semasa pandemi, dilakukan di rumah masing-masing menjadi konsep dan teknik dalam berkarya.
Membuat sketsa gambar, menjadi syarat seleksi peserta mural. Selanjutnya terpilih delapan seniman. Berikutnya tim mural melakukan seleksi sket yang diterima, menentukan ukuran lukisan. Langkah berikutnya, mengirimkan media berupa triplek kepada delapan seniman terpilih. Seniman berkarya sesuai dengan sketsa yang sudah diajukan dan dipilih oleh tim mural. Setelah karya selesai, karya mural dikirim kembali kepada tim. Proses akhir, seluruh karya akan dikolaborasikan, disatukan dalam sebuah karya mural oleh Direktur Galeri Katamsi Nano Warsono dan Ketua penyelenggara Sukri Budi Darma.
“Proses dan tahapan di atas, akan dilakukan persis oleh para difabel seniman dan tim mural yang berada di Ingrris. Hasilnya adalah dua mural, satu di Indonesia dan satu di Inggris,” jelas Budi.
Karya mural juga akan dipublikasikan melalui dokumentasi video. Video akan diberikan subtitle dibuat dalam dua bahasa, Inggris - Indonesia. Dengan tujuan, video menjadi aksesibel bagi tuli. *** harta nining wijaya

