JDA.com. Melukis identik dengan seni visual. Membutuhkan kemampuan khusus, yakni ketekunan, kejelian, serta analisis visual yang tinggi. Unsur warna, komposisi, bentuk, melekat erat dalam proses berkarya seni yang mengandalkan penglihatan ini.
Pelukis harus dapat melihat bagian-bagian detail dari warna yang digoreskan di atas media. Karenanya berkarya seni rupa atau melukis, diasumsikan hanya menjadi ranah mereka yang bisa melihat dengan mata. Lantas, bagaimana dengan mereka yang kehilangan penglihatan atau netra?
Kenetraan ternyata bukan penghalang untuk menjadi pelukis. Medio November 2020, JDA.com berkesempatan mengunjungi Pariatmojo, pelukis netra yang tinggal di Surakarta, Jawa Tengah.
Siang itu, mengenakan kaos oblong putih, celana pendek warna hitam, pria itu duduk di lantai tanpa alas. Di sekilingnya terdapat beberapa botol cat berbagai warna. Kanvas di depannya sudah setengah penuh dengan lukisannya. Saat itu, botol cat, dirabanya lalu diletakkan lagi. Dia ambil botol lain, dirabanya, diletakkan berdekatan. Kemudian diambilnya wadah, dituangkan cat warna dari dua botol tadi. Satu warna kuning, satu lagi warna merah, lalu diaduknya menggunakan kuas.
Setelah mendapatkan warna yang diinginkannya, yaitu orange, dimasukkan jari-jari tangan kanannya. Dengan jari-jarinya yang telah dicelupkan dalam cat yang dicampurnya, dia melanjutkan melukis. Jari tangan kirinya berperan menandai bagian kanvas yang sudah dan yang akan dilukis. Akhirnya dia mengambil kuas, lalu menggoreskannya di bagian bawah kanvas. Penggunaan kuas menandai bahwa karya lukisnya sudah selesai.
Pariatmojo (55), ia mampu melukis dalam gelap mata lahir (netra). Mengadalkan mata batin atas apa yang diingatnya, kemudian menuangkannya dalam karya. Dan dia akan membiarkan orang lain menikmati karyanya, meraba perasaan yang diungkapkannya. Tak jarang Pariatmojo akan meminta bantuan orang lain menjelaskan hasil karyanya. Hal ini dilakukan untuk memastikan pesan yang ingin disampaikan terwujud dalam gores karya lukisnya.
Bak puisi
Lukisannya bak puisi, menggunakan bahasa visual. Yang mampu menterjemahkan arti dan bunyi kata-kata tersembunyi ke dalam simbol, serta warna yang dipahaminya. Selain sebagai bentuk komunikasi, baginya melukis dapat membebaskan diri dari permasalahan jiwa.
Keindahan itu, ketika perasaannya terwakili ke dalam bentuk karya visual. Dimulai dengan membayangkan dan memetakan warna, bentuk serta tanda-tanda yang mewakili perasaannya. Kemudian mempertimbangkan warna-warna yang akan digoreskannya. Meski dia sendiri tidak mengetahui persis bagaimana karya visualnya.
Pariatmojo, Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta 1997. Salah seorang pelukis yang hanya menggunakan mata batin, tidak mata lahir.
Sewaktu masih melihat, dia memiliki pengalaman melukis. Figur-figur naturalis, dramatis pada karya lukisannya, berhasil membawanya mengikuti beberapa kali pameran,. Karya-karyanya banyak diapresiasi untuk project perumahan. Seringkali diminta mengerjakan maket, disain interior rumah.
Kegelapan menghampiri
Sejak keluar dari kampus 1995, dia hijrah ke Jakarta. Bekerjasama dengan kawan-kawannya membuka jasa artwork (maket, patung, lukisan, disain interior). Kembali ke Surakarta pada 1999 untuk mengerjakan beberapa project. Kurang istirahat, lupa makan, intens menggunakan obat tetes mata dan mengkonsumsi alkohol.
Kegelapan menghampirinya. Tepatnya 1 Mei 2009, ia kehilangan penglihatannya. Kejadiannya sangat singkat, hari sabtu merasakan sakit pada mata, diperiksakan ke dokter, esok hari matanya sudah tak lagi berfungsi. Dunia yang penuh warna, sontak menjadi hitam, gelap. Sedikitpun tidak ada cahaya yang dapat diserap matanya. Tak mudah menerima kenyataan. Perasaan tidak berguna, merasa bersalah, mudah tersinggung, malu, berkelindan dalam pikiran. Jiwanya semakin terguncang saat setahun kemudian, tunangannya memutuskan ikatan.
Segala sesuatu akan ada apabila ada keberanian dalam memulai atau menemukan sebuah cara penciptaan. Tentu hal ini tidak mudah. Memiliki proses yang cukup lama, banyak kendala dari luar diri dan dari dalam diri. Menentukan apa yang akan dilakukan dan dikerjakan, butuh pengendapan serta ketenangan, sehingga membentuk keyakinan dan percaya diri.
Pariatmojo dapat menyesuaikan keadaan dari 2009 mengalami tidak melihat total, pada 2013 mencoba melukis namun berhenti, baru awal 2017 perlahan menyadari harus ada yang bermanfaat dikerjakannya. Setiap hari dia mulai belajar membuat sketsa di kertas, belajar menulis, mempelajari titik kordinat, memetakan bidang, mengingat warna, belajar lagi bagaimana mencampur warna, cara menggoreskan kuas dan menyebar warna.
Menjemput kesempatan
Tak mudah, numun bukan berarti tidak mungkin. Demikian pengakuan Priatmojo. Berproses, itu yang dia lakukan. Mengasah dan menajamkan mata batinnya, menjadi kekuatan awal untuk mulai berkarya. Itu juga cara bagi Priatmojo menjemput kesempatan.
Dibantu Wawan, salah seorang teman dekatnya semasa kuliah ia mempersiapkan cat, kuas, pencil, kertas, serta kanvas. Wawan juga membimbing bagaimana Pariatmojo membuat sketsa, lalu melukis.
Butuh waktu yang cukup panjang, hampir tiga tahunan (2017 – 2020). Hingga pada pertengahan 2020, dia mulai melukis di atas kanvas. Pariatmojo memantapkan pilihan, kembali menekuni aktivitas yang pernah digeluti semasa masih bisa melihat.
Dia menandai dan mengingat warna-warna yang sudah digoreskannya. Demikian pula dengan posisi dan bentuk coretannya. Guna menghindari kekeliruan mengambil warna, diberinya tanda khusus pada setiap botol warna. Kemudian, pria itu akan mencampur dan mengaduk sendiri warna yang dipilihnya. Pengalaman, pengetahuan semasa kuliah dipadu dengan mata batinnya yang terasah, membantunya dapat melakukan setiap proses dengan baik.
Cukup heroik! Meski secara teori akademik, hasil campuran warnanya tidak sesuai dengan kadar dan harmoni, namun telah mampu memenuhi kadar cita rasa dia.
Melukis tidak sekedar membuatnya terhibur dan bahagia. Lebih dari itu, melukis menjadi media bagi Priatmojo mecurahkan segala rasa. Rasa sedih, marah, tak berguna, kesepian, kegelapan. Segala ingatan dan pengalaman buruk dikurasnya, dituangkannya dalam sebuah karya di atas kanvas.
“Kenangan masa silam yang membebani pikiran, kini kian ringan,” kisah Priatmojo. Dia juga menyampaikan bahwa, mengurai permasalahan butuh kesabaran, ketekunan, ketelatenan, serta empati dari pihak lain. Selain juga dukungan moril, materiil. Semua itu disimpulkannya dalam satu kata, ‘kesempatan”. Adalah kesempatan, yang mampu mengubah segala sesuatu menjadi lebih baik, berharga, bermartabat.
Di balik peristiwa yang cukup heroik itu, metode melukis bagi tuna netra sedikit banyak terungkap. Tentu saja, ketika Pariatmojo mau berbagi, metode dan teknis melukisnya, ilmu yang dimiliki dapat menambah khasanah seni dan budaya. Sebuah teori dan teknik melukis bagi tuna netra. Kini dia sedang mempersiapkan pameran tunggalnya, yang akan dihelat pada Mei 2021*** [Jajang R Kawentar]

