Sukri Budi Dharma, Kesetaraan Tak Berhenti di Ruang Pamer, Karya Difabel Harus Dikurasi Setara Profesional

Author Image
Author Social Media :
foro animasi Sukri Budi Dharma

Jogja Disability Arts (JDA) adalah sebuah yayasan resmi yang bergerak dalam bidang seni dan budaya, didedikasikan untuk memberdayakan dan memajukan potensi kreatif para penyandang disabilitas (difabel). JDA berfungsi sebagai "kawah candradimuka" di Yogyakarta untuk membuktikan keberdayaan difabel di tengah stigma negatif masyarakat yang kerap menganggap mereka tidak berdaya. JDA menekankan prinsip keberlanjutan (mendampingi proses berseni, bukan sekadar memamerkan) dan kesetaraan (menuntut kurasi dan presentasi karya setara seniman profesional non-difabel). Yayasan ini beroperasi dengan empat pilar utama: Edukasi, Presentasi, Perlindungan Hukum, dan Penguatan Ekonomi.JDA diinisiasi dan kini diketuai oleh Sukri Budi Dharma, yang akrab disapa Mas Butong. Yayasan ini didukung oleh tim profesional dari berbagai disiplin ilmu, praktisi, dan pemerhati disabilitas. Embrio JDA bermula dari sebuah komunitas bernama Difabel and Friends Community (Diff Com) yang telah eksis sejak 2009. Karena minimnya kegiatan pameran dan pertunjukan musik yang mendukung keberlanjutan, komunitas ini dilegalkan menjadi yayasan resmi, yaitu JDA, pada tahun 2020 oleh Mas Butong dan rekan rekannya untuk memberikan wadah yang lebih kuat dan profesional. 

Wawancara mengenai JDA ini dilakukan pada Selasa, 15 Juli 2025. Meskipun demikian, sejarah JDA jauh lebih panjang, dimulai dari pembentukan komunitas Diff Com pada tahun 2009 dan dilegalkan sebagai yayasan pada tahun 2020. Program JDA, termasuk upaya penguatan ekonomi dan edukasi, berjalan secara berkelanjutan sejak yayasan tersebut didirikan. JDA adalah yayasan kesenian kelompok difabel yang berbasis di Jogja. Meskipun demikian, visi dan misinya menjangkau tingkat nasional maupun internasional. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatan seniman difabel JDA dalam berbagai proyek, termasuk membuat mural di Kedutaan Besar Inggris, menunjukkan jangkauan kerja sama yang luas. Kegiatan JDA sendiri dilaksanakan melalui berbagai medium, seperti workshop (pilar edukasi) dan pameran (pilar presentasi). JDA didirikan untuk mengatasi dua persoalan utama: stigma negatif yang menganggap difabel tidak berdaya dan kurangnya akses memadai terhadap fasilitas publik dan ruang seni yang setara. Mas Butong menekankan bahwa banyak acara sebelumnya hanya fokus pada pemenuhan hak, tetapi tidak mendukung potensi dan keberlanjutan karier seniman difabel. JDA hadir karena seni dianggap universal dan cair; ia tidak memiliki standar benar atau salah, sehingga menjadi medium yang ideal dan minim hambatan. Terutama bagi teman teman tuli wicara, seni menjadi medium dialog yang kuat untuk mengeluarkan cerita dan ekspresi batin yang sulit disampaikan melalui komunikasi verbal. Dengan memberikan ruang dan peluang yang profesional, JDA berharap dapat mengubah stigma masyarakat dan mendorong pengakuan bahwa difabel memiliki potensi yang harus diapresiasi.

Kamu bisa mengikuti kita di sosial media :
Logo
Loading.Website JDA Yogyakarta