JDA Wujudkan Pameran Rupa Inklusif, Patahkan Stigma Tunanetra Tak Bisa Menikmati Karya Visual

Author Image
Author Social Media :
foto Win Dwi Laksono di pameran

Pameran seni rupa ini adalah upaya radikal untuk mematahkan anggapan umum bahwa seni visual hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki penglihatan. Melalui inisiatif ini, Jogja Disability Arts (JDA) secara konsisten menyelenggarakan pameran yang dapat diakses penuh oleh teman teman tunanetra. Inklusivitas diwujudkan melalui dua metode utama:

 

  1. Audio Deskripsi Spesifik untuk karya dua dimensi, yang mendeskripsikan subjek secara kontekstual (misalnya, "terdapat rumput dan langit dalam kanvas") alih-alih deskripsi warna.

  2. Akses Sentuh pada karya tiga dimensi (patung) dan karya dua dimensi tertentu, memungkinkan penikmat tunanetra meraba dan merasakan tekstur karya secara langsung.

Pameran inklusif ini diselenggarakan oleh Jogja Disability Arts (JDA), yang diketuai oleh Sukri Budi Dharma (Mas Butong). JDA adalah yayasan resmi yang berawal dari komunitas Difabel and Friends Community (Diff Com). Upaya inklusif ini kembali dihadirkan dalam pameran tunggal seniman pematung, Win Dwi Laksono, yang bertajuk “Rindu Masa Lalu”. JDA melibatkan para profesional dan panitia pameran yang sebelumnya telah diberi pelatihan workshop tentang cara mendampingi penyandang disabilitas secara tepat.

Ide pameran inklusif JDA sudah dimulai sejak komunitas ini masih bernama Diff Com, yang didirikan pada tahun 2009. Pameran seni rupa inklusif pertama bagi tunanetra diselenggarakan pada tahun 2010. Upaya inklusif ini terus berlanjut hingga saat ini, yang terakhir diwujudkan dalam pameran tunggal “Rindu Masa Lalu” pada Juli 2025 (Wawancara dengan Ketua JDA dilakukan pada 26/7/25). Komitmen ini menunjukkan prinsip keberlanjutan JDA dalam memberikan akses yang setara.DA adalah komunitas seni yang berpusat di Jogja. Pameran inklusif pertama pada tahun 2010 diadakan di Rumah Budaya Tembi, Sewon, Bantul. Upaya inklusif yang lebih baru, seperti pameran “Rindu Masa Lalu”, juga diselenggarakan di Yogyakarta (Equalitera Artspace), menunjukkan bahwa Yogyakarta menjadi kawah candradimuka bagi praktik seni yang ramah disabilitas.Pameran inklusif ini lahir dari kesadaran akan hak setiap orang untuk mendapatkan informasi dan menikmati budaya. Sukri Budi Dharma melihat bahwa banyak teman tunanetra belum pernah mengunjungi museum atau galeri karena minimnya akses dan pendampingan. Meskipun tunanetra memiliki keterbatasan visual, mereka tidak memiliki hambatan pada indera pendengaran dan peraba. Oleh karena itu, JDA berupaya menjembatani keterbatasan akses ini. Tujuannya adalah membuka wawasan publik dan membuktikan bahwa tunanetra nyatanya bisa menikmati seni rupa melalui indera selain penglihatan, sekaligus mempromosikan dialog dan kepekaan yang beragam.

Kamu bisa mengikuti kita di sosial media :
Logo
Loading.Website JDA Yogyakarta