Program Inclusive Screening, hasil kolaborasi antara JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival) ke-19 dan JDA (Jogja Disability Art), diselenggarakan untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional 2024, bertujuan untuk mewujudkan kesetaraan akses seni pertunjukan, khususnya film, bagi difabel netra dan tuli, karena "sejatinya film pantas dinikmati berbagai kalangan termasuk difabel," ujar Budi Darma (Butong) dari JDA. Kegiatan nonton bioskop inklusif ini dilaksanakan pada Senin, 2 Desember 2024, bertempat di flue Empire Sleman, dengan pemutaran film yang dipilih adalah "Home Sweet Loan". Konsep inklusif diterapkan secara menyeluruh: JAFF menyediakan pembisik visual yaitu volunteer yang bertugas mendeskripsikan adegan film khusus bagi difabel netra, serta closed caption bagi difabel tuli. Sebelum pemutaran dimulai, JDA dan JAFF membekali para 30 volunteer pendamping melalui workshop yang mengajarkan tata cara menggandeng difabel netra, berkomunikasi dengan tuli, dan pelayanan inklusif, memastikan implementasi pendampingan berjalan efektif. Acara ini dihadiri oleh total 30 difabel netra dan tuli, menunjukkan antusiasme peserta terhadap program yang bersifat terbuka untuk khalayak umum ini.
Amanda, salah satu peserta difabel netra, menyatakan kegembiraannya karena adanya pembisik visual yang "sangat informatif" dan mampu mendeskripsikan visual film, menegaskan bahwa pelayanan yang diberikan oleh JAFF sudah cukup inklusif. Di sisi volunteer, Isti merasa bahwa program Inclusive Screening ini sangat penting karena tidak hanya membuat film lebih mudah diakses oleh teman netra, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya inklusi, serta memberinya pengalaman berharga dalam membangun kepekaan dan perhatian terhadap detail informasi yang disampaikan. Butong berharap agar akses inklusif di dunia pertunjukan, termasuk film, dapat dinikmati oleh difabel dengan mudah di masa depan, karena ini adalah fasilitas yang layak diperoleh semua golongan tanpa diskriminasi. Senada dengan itu, Isti berharap semakin banyak acara yang memperhatikan aksesibilitas, menciptakan masyarakat yang lebih inklusif di mana setiap individu dapat berpartisipasi tanpa ada yang tertinggal. Program ini, yang diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai ungkapan kebersamaan, berhasil menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi dapat menciptakan ruang seni yang sepenuhnya inklusif dan aksesibel, sesuai dengan kebutuhan difabel.

