Jogja Disability Arts (JDA) kembali membuktikan peran seni sebagai jembatan yang menyatukan perbedaan melalui proyek kolaborasi internasional seni mural. Proyek ini merupakan bagian dari kegiatan yang lebih besar bertajuk Artrasa Mini Art Festival (AMAF), yang di dalamnya terdapat dua kegiatan utama: peresmian mural berukuran sekitar 8 x 5 meter dan Pameran Seni Rupa "Artrasa". Mural ini sendiri adalah proyek kelima yang merupakan kelanjutan dari program residensi Lintunan/Cyfnewid/Exchange antara komunitas seni dari Inggris dan Indonesia. Pesan utama yang diangkat adalah kebersamaan, kesetaraan, dan inklusivitas yang dapat dipelajari melalui proses bermain (dolanan). Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara Jogja Disability Arts (JDA), sebuah yayasan seni yang berbasis di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, dengan Community Murals CIC (CIC), sebuah komunitas seni dari Wales, Inggris. Tim seniman yang terlibat terdiri dari delapan orang: Andrew Bolton (seniman dari Inggris) dan tujuh seniman dari JDA. Seniman JDA yang terlibat mewakili berbagai latar belakang disabilitas dan non-disabilitas, yaitu Sukri Budi Dharma (difabel fisik/Ketua JDA), Nano Warsono (Dosen/Direktur Galeri Kartamsi ISI Yogyakarta), Rofita Rahayu (tuli), Edi Priyanto (difabel fisik), Bernard Wora Wari, Eri Sektiawan, dan Zakka (tuli). Proyek ini dapat terlaksana berkat Hibah Unlimited Project. Mural ini secara resmi diluncurkan pada Minggu, 7 Juli 2024. Proyek ini merupakan bagian dari residensi balasan yang dilakukan oleh seniman Inggris, Andrew Bolton, beserta keluarganya, yang berada di Yogyakarta selama hampir sebulan, yakni dari 29 Juni hingga 28 Juli 2024. Kegiatan Artrasa Mini Art Festival, termasuk pameran seni rupa "Artrasa" yang menampilkan karya komunitas JDA (Indonesia) dan DAC Wales (Inggris), direncanakan akan dilangsungkan pada pertengahan Juli 2024 di Kampung Dolanan, Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tujuan mendasar dari kolaborasi ini adalah menyampaikan pesan tentang kebersamaan dan kesetaraan antara seniman difabel dan non-difabel. Mural ini secara visual menggambarkan identitas kedua negara (motif batik/tenun, bunga melati, burung Garuda/perkutut dari Indonesia, berpadu dengan bunga daffodil/mawar dan burung wallet dari Wales), serta menampilkan sosok siluet Ayla, seorang penyintas kanker dari Wales, menyiratkan keberadaan universal. Ketua JDA, Sukri ‘Butong’ Budi Dharma, menekankan bahwa proyek ini adalah upaya mengubah stigma masyarakat: dengan diberi kesempatan (bukan sekadar bantuan), seniman difabel dapat menggali potensi dan membuktikan kemampuannya. Nano Warsono menambahkan bahwa seni, khususnya melalui proses bermain, dapat menjadi wahana untuk mengajarkan inklusivitas tanpa harus melalui edukasi formal. Andrew Bolton sendiri berharap adanya interaksi egaliter yang mengalir, di mana setiap orang memiliki karya dan tanggung jawab bersama.Mural tersebut dirancang berdasarkan ide kebersamaan, kesetaraan, dan inklusivitas dalam proses bermain. Secara visual, konsep ini diwujudkan melalui motif yang saling bertumpuk (transparan) dan bersatu, merepresentasikan keragaman yang menyatu. Selain peluncuran mural, kegiatan dilanjutkan dengan pameran dan artist talk bersama Andrew Bolton untuk berbagi proses dan pemikiran, menjamin interaksi dan diseminasi pesan inklusi kepada publik dan komunitas seni yang lebih luas.

.jpeg)