PRISM adalah sebuah proyek penelitian dan diseminasi seni disabilitas yang bersifat bilateral. Proyek ini berfokus pada pengkajian makna, dampak, dan dinamika kolaborasi seni bagi para seniman penyandang disabilitas, menggunakan metodologi Participatory Action Research (Penelitian Aksi Partisipatif). Inti dari PRISM adalah mengangkat nilai dan cerita unik penyandang disabilitas melalui seni, menjadikannya wadah ekspresi, upaya pemberdayaan, dan intervensi untuk meningkatkan pemahaman publik. Kegiatan utama PRISM mencakup lokakarya Body Mapping, seminar, bincang bincang seni, dan pameran. Proyek PRISM diinisiasi oleh dua organisasi seni yang berfokus pada disabilitas: Jogja Disability Arts (JDA) dari Indonesia dan DaDaFest (DaDa) dari Inggris. JDA (berdiri tahun 2020) dan DaDaFest (berdiri tahun 1984, salah satu organisasi seni difabel tertua di Inggris) memiliki visi serupa, yaitu menciptakan ruang yang setara dan inklusif bagi praktisi kreatif disabilitas di tingkat nasional dan internasional. Proyek ini melibatkan para seniman partisipan dengan beragam disabilitas (tuli, daksa, netra) dan difasilitasi oleh tim pakar, termasuk Triarani Utami, Nano Warsono, Rachel Rogers, dan Ngozi Ugochukwu. Hasil karya seniman seperti Edi Priyanto, I Made Jery Juliawan, dan Winda Karunadhita, turut dipamerkan ke publik. Proyek PRISM direncanakan berlangsung selama kurang lebih sepuluh bulan. Tahapan krusial dilaksanakan pada tahun 2024, termasuk Lokakarya Body Mapping di Yogyakarta pada Mei 2024 dan di Liverpool pada September 2024. Kegiatan diseminasi, termasuk pameran dan seminar mini, berlangsung sepanjang tahun 2024. Proyek ini juga sudah mencanangkan serangkaian kegiatan lanjutan hingga Oktober 2025, termasuk partisipasi dalam perayaan ulang tahun ke-40 DaDaFest di Maret 2025 dan pameran di Jogja International Disability Arts Biennale #3 pada Oktober 2025. PRISM adalah proyek bilateral yang menjangkau dua negara dan berbagai lokasi. Lokakarya utama Body Mapping diselenggarakan di Yogyakarta, Indonesia, dan Liverpool, Inggris. Diseminasi karya dan hasil penelitian dilakukan di berbagai tempat, termasuk Equalitera Art Space (pameran Akar Rasa Setara), Suluh Sumurup Art Festival di Yogyakarta, seminar mini di PSPR UGM, bincang seni di Bluecoat, Liverpool, dan presentasi di Dia.Lo.Gue, Jakarta. Proyek PRISM diinisiasi untuk mengkaji dan membuktikan nilai fundamental dari seni disabilitas: sebagai jembatan pemahaman, wadah ekspresi, dan upaya pemberdayaan. Dengan melibatkan seniman dalam proses reflektif, PRISM bertujuan membantu mereka mengartikulasikan identitas secara individu dan kolektif. Proyek ini dilaksanakan melalui metode Participatory Action Research, memastikan seniman terlibat aktif dalam proses penelitian. Pelaksanaannya dibagi menjadi beberapa tahapan: Pertama, Lokakarya Body Mapping, di mana peserta diajak menggali dan mengilustrasikan pengalaman serta cita-citanya. Kedua, Pameran dan Diseminasi, yang dilakukan melalui tiga pameran berbeda dan serangkaian bincang-bincang/seminar, untuk menyebarluaskan hasil karya dan pengetahuan kepada publik luas. Selama setiap tahap, JDA dan DaDaFest berupaya menciptakan ruang aman bagi seniman untuk refleksi, kolaborasi, dan pengambilan keputusan, yang secara cermat dirancang untuk menjalin kepercayaan dan interaksi yang tulus. Kolaborasi bilateral ini juga terus menjajaki peluang masa depan, seperti lokakarya di Breaking Barriers dan rencana proyek mural di Liverpool.

